Daftar Isi
Halaman
Halaman
BAB I. Pendahuluan.............................................................................................. 1
Latar
Belakang.................................................................................... 2
Rumusan
Masalah............................................................................... 3
BAB II. Pembahasan............................................................................................. 4
2.1. Pengertian Mutu................................................................................ 5
2.1.1.
definisi mutu menurut deming................................................ 3
2.1.2.
definisi mutu menurut juran.................................................... 3
2.1.3.
definisi mutu menurut crosby................................................. 3
2.2. Relevansi konsep
3 guru mutu dalam dunia pendidikan.................. 3
BAB III. Penutup................................................................................................. 10
3.1. kesimpulan...................................................................................... 11
3.2. Saran............................................................................................... 12
Daftar Pustaka..................................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan dapat dilihat dari segi teoritis maupun
praktis. Secara teoritis pendidikan dapat diartikan sebagai upaya untuk
mendewasakan manusia, sementara itu secara praktis pendidikan akan terlihat
dari kelembagaannnya, menurut undang-undang sistim pendidikan Nasional Nomor 20
Tahun 2003 terdapat tiga lingkungan pendidikan yaitu pendidikan formal,
pendidikan informal, pendidikan non formal.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal sudah tentu memerlukan
pengelolaan yang impersonal, keberhasilan suatu lembaga pendidikan terdapat
pada keterkaitan pengelolaan antara
manusianya, biaya, material, mesin, metode dan pasarnya. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta adanya globalisasi, maka setiap organisasi baik yang bergerak
dibidang jasa maupun produk berupa barang dituntut mampu memberikan dan
menghasilkan produk yang berkualitas. Untuk dapat memenuhi tuntutan masyarakat
tersebut, maka setiap institusi harus memiliki manajemen yang baik. Salah satu
bentuk manajemen yang berhasil dimanfaatkan dalam dunia industri dan biasa
diadaptasi oleh institusi pendidikan
adalah Total Quality Management (TQM).
Kualitas banyak didefinisikan
sebagai tingkat keunggulan, kesesuaian untuk tujuan atau penggunaan, zero defect, kesesuaian dengan persyaratan. Untuk
keberhasilan penerapan manajemen mutu tidak mudah, diperlukan komitmen dan
kerja sama yang baik antar bagian dari sistem. Jika manajemen diterapkan sesuai
dengan ketentuan yang ada dengan segala dinamika dan fleksibilitasnya, maka
akan menjadi perubahan yang cukup efektif bagi pengembangan dan peningkatan
mutu.
TQM diartikan sebagai perpaduan
semua fungsi dari perusahaan ke dalam falsafah holistic yang dibangun
berdasarkan konsep kualitas, team work, produktifitas, pengertian serta
kepuasan pelanggan ( Ishikawa dalam Fandi Tjiptono,2003;4) defenisi lainnya
menyatakan menyatakan bahwa TQM merupakan sistim manajemen yang mengangkat
kualitas sebagai strategi usaha berorientasi pada kepuasan pelanggan dengan
melibatkan seluruh anggota organisasi ( Santosa dalam Fandy Tjiptoo, 2003; 4).
Aspek yang paling fundamental dari
manajemen ilmiah adalah adanya pemisahan antara perencanaan dan pelaksanaan.
Meskipun pembagian tugas telah menimbulkan peningkatan besar dalam hal
produktivitas, konsep pembagian tugas telah menyisihkan konsep lama mengenai
keahlian/keterampilan, dimana individu yang sangat terampil melakukan semua
pekerjaan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk yang berkualitas.
B.
Rumusan Masalah
Dari penjelasan latar belakang diatas maka yang menjadi pokok
permasalahan dari makalah ini adalah “ Bagaimana
mutu menurut W. Edwards Deming, Joseph
Juran Philip Crosby.
C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui pandangan atau pendapat W. Edwards Deming,
Joseph Juran Philip Crosby tentang Mutu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Mutu
1.
Defenisi Mutu menurut W.Edward Deming
Menurut Deming ( Fandy Tjiptono,
2003:49)konsep mutu terdiri dari dua tingkat yaitu : multidimensi untuk
memproduksi suatu produk dan memberi jasa pelayanan sesuai harapan pelanggan
untuk mencapai kepuasan pelanggan. Argumennya yang esensial adalah (1) mutu
harus didefinisikan sebagai kepuasan pelanggan, (2) kualitas multidimensional
di mana tidak mungkin menentukan kualitas suatu produk atau jasa hanya dengan
karakteristik tunggal atau agen, dan (3) ada derajat mutu yang berbeda, karena
mutu pada dasarnya disamakan dengan kepuasan pelanggan. Deming mengembangkan
siklus hubungan antara produksi suatu produk dengan kebutuhan pelanggan, dan
memfokuskan sumber daya semua departemen
(riset, desain, produksi, pemasaran) dalam suatu usaha kerjasama untuk
memenuhi kebutuhan tersebut.
Tahap-tahap dalam Siklus Deming
terdiri dari :
1. Mengadakan riset konsumen dan mengggunakannya
dalam perencanaan produk ( Plan)
2. Menghasilkan produk (do)
3. Memeriksa produk apakah telah dihasilkan sesuai
dengan rencana (check).
4. Memasarkan produk tersebut (act)
5. Menganalisis bagaimana produk tersebut diterima
di pasar dalam hal kualitas, biaya, dan kriteria lainnya ( analyze)
Empat
Belas point Deming:
1. Ciptakan
keajegan tujuan dalam menuju perbaikan produk dan jasa.
2. Manajemen
harus memahami adanya era ekonomi baru dan siap menghadapi tantangan.
3. Hentikan
ketergantungan pada inspeksi dalam membentuk mutu produk, bentuklah mutu sejak
dari awal.
4. Hentikan
praktik menghargai kontrak berdasarkan tawaran yang rendah.
5. Perbaiki
secara konstan dan terus menrus sitim produksi dan jasa.
6. Lembagakan
on the job training.
7. Lembagakan
kepemimpinan.
8. Hapuskan
rasa takut sehingga setiap orang dapat bekerja secara efektif.
9. Hilangkan dinding pemisah antar departemen
sehingga orang dapat bekerja sebagai team.
10. Hilangkan
slogan,desakan, dan target bagi tenaga kerja. Hal-hal tersebut dapat
menciptakan permusuhan.
11. Hilangkan
kuota dan manajemen berdasarkan sasaran.
12. Hilangkan
penghalang yang dapat merampok kebanggaan karyawan atas keahliannya.
13. Giatkan
program pendidikan.
14. Buatlah
transformasi pekerjaan setiap orang dan siapkan setiap orang untuk
mengerjakannya.
2.
Defenisi Mutu menurut Joseph M. Juran
Juran( Fandy Tjiptono, 2003:53) mendefenisikan
kualitas sebagai kesesuaian untuk diunakan, yang mengandung pengertian bahwa
suatu produk atau jasa harus dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh
pemakainya. Pengertian kesesuaian mengandung 5 dimensi utama, yaitu kualitas
disain, kualitas kesesuaian, keersedian, keamanan dan field use.
Menurut Juran, tiga langkah dasar merupakan langkah
yang harus diambil perusahaan bila mereka ingin mencapai kualitas tingkat
dunia. Juran juga yakin bahwa ada titik diminishing return dalam hubungan
antara kualitas dan daya saing. Ketiga langkah tersebut terdiri dari :
1. Mencapai
perbaikan terstruktur atas dasar kesinambungan yang
dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
dikombinasikan dengan dedikasi dan keadaan yang mendesak.
2. Mengadakan
program pelatihan secara luas.
3. Membentuk
komitmen dan kepemimpinan pada tingkat manajemen yang lebih
tinggi.
tinggi.
3.
Defenisi
Mutu menurut Philip B.Crosby
Menurut Philip
B. Crosby( Fandy Tjiptono, 2003:57) kualitas adalah atau sama dengan
persyaratannya (conformance to requiretmens), meleset sedikit saja dari
persyaratannya maka suatu produk atau jasa dikatakan tidak berkualitas.
Persyaratan itu sendiri dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan
organisasi, pemasok dan sumber, pemerintah teknologi, serta pasar atau
persaingan.
Philip B. Crosby telah berusaha keras menekankan
bahwa ‘tanpa cacat’ adalah sebuah hal yang dapat diwujudkan, meskipun memang
sulit. Program peningkatan mutu Crosby adalah salah satu dari bimbingan atau
arahan yang paling detail dan praktis. Penghematan sebuah institusi akan datang
dengan sendirinya ketika institusi tersebut melakukan segala sesuatunya dengan
benar.
Tanpa cacat adalah kontribusi pemikiran Crosby yang
utama dan controversial tentang mutu. Ide ini adalah sebuah ide yang sangat
kuat. Ide ini adalah komitmen untuk selalu sukses dan menghilangkan kegagalan.
Bagi dia hanya ada satu standar, dan itu adalah kesempurnaan. Gagasannya adalah
pencegahan murni, dan ia yakin bahwa kerja tanpa salah adalah hal yang sangat
mungkin.
B. Relevansi
konsep 3 guru mutu dalam pendidikan
Tiga tokoh penting tentang mutu adalah W. Edwards Deming,
Joseph Juran dan Philip B. Crosby. Ketiganya berkonsentrasi pada mutu dalam industri
produksi, meskipun demikian ide-ide mereka juga dapat diterapkan dalam industri
jasa. Memang tidak satupun dari mereka yang memberikan pertimbangan tentang
isu-isu mutu dalam pendidikan. Namun kontribusi mereka terhadap gerakan mutu
begitu besar dan memang harus diakui bahwa eksplorasi mutu akan mengalami
kesulitan tanpa merujuk pada pemikiran mereka.
Karya terpenting W. Edwards Deming, Out of the Crisis, dipublikasikan
pada tahun 1982. Deming melihat bahwa masalah mutu terletak pada masalah
manjemen. Sementara Joseph Juran juga pelopor lain revolusi mutu Jepang. Dia
juga lebih diperhatikan di Jepang dari pada di tempat kelahirannya, Amerika.
Pada tahun 1981, kaisar Jepang memberikan anugerah bergengsi, Order of the
Sacred Treasure. Juran terkenal karena keberhasilannya menciptakan
"kesesuaian dengan tujuan dan manfaat". Ia dikenal sebagai
"guru" manajemen pertama dalam menghadapi isu-isu manajemen mutu yang
lebih luas. Dia yakin (sebagaiman juga Deming) bahwa kebanyakan masalah mutu
dapat dikembalikan pada masalah keputusan manajemen.
Sedangkan Philip Crosby selalu diasosiasikan dengan dua ide
yang sangat menarik dan sangat kuat dalam mutu. Yang pertama adalah ide bahwa
mutu itu gratis. Menurutnya, terlalu banyak pemborosan dalam sistem saat
mengupayakan peningkatan mutu. Kedua adalah ide bahwa kesalahan, kegagalan,
pemborosan, dan penundaan waktu – serta semua hal yang "tidak
bermutu" lainnya – bisa dihilangkan jika institusi memiliki kemauan untuk
itu. Ini adalah gagasan "tanpa cacat" (Zero Defects)-nya yang
kontroversial. Kedua ide tersebut sangat menarik jika diterapkan dalam dunia
pendidikan.
BAB III
KESIMPULAN
Menurut Deming konsep mutu terdiri
dari dua tingkat yaitu : multidimensi untuk memproduksi suatu produk dan
memberi jasa pelayanan sesuai harapan pelanggan untuk mencapai kepuasan
pelanggan. Juran mendefenisikan kualitas sebagai kesesuaian untuk digunakan,
yang mengandung pengertian bahwa suatu produk atau jasa harus dapat memenuhi
apa yang diharapkan oleh pemakainya. Pengertian kesesuaian mengandung 5 dimensi
utama, yaitu kualitas disain, kualitas kesesuaian, keersedian, keamanan dan
field use dan menurut
Philip B. Crosby kualitas adalah atau sama dengan persyaratannya
(conformance to requiretmens), meleset sedikit saja dari persyaratannya maka
suatu produk atau jasa dikatakan tidak berkualitas. Persyaratan itu sendiri
dapat berubah sesuai dengan keinginan pelanggan, kebutuhan organisasi, pemasok
dan sumber, pemerintah teknologi, serta pasar atau persaingan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Tjiptono Fandy, 2003, Total
Quality Management (TQM),Yogyakarta, CV. Andi.
2. Tjiptono Fandy, 2005,
Total Quality Service (TQS),Yogyakarta, CV. Andi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar